- By Y.B. Mangunwijaya

Rumah Bambu: Kumpulan Cerpen Pertama dan Terakhir

  • Title: Rumah Bambu: Kumpulan Cerpen Pertama dan Terakhir
  • Author: Y.B. Mangunwijaya
  • ISBN: 9789799023391
  • Page: 380
  • Format: Paperback
  • Rumah Bambu Kumpulan Cerpen Pertama dan Terakhir Rumah Bambu adalah kumpulan cerpen Romo Mangun yang pertama dan terakhir kali diterbitkan Sebagian besar cerpen cerpen itu ditemukan di rumah penulis di Kuwera Yogyakarta dalam keadaan penuh koreks

    Rumah Bambu adalah kumpulan cerpen Romo Mangun yang pertama dan terakhir kali diterbitkan Sebagian besar cerpen cerpen itu ditemukan di rumah penulis, di Kuwera, Yogyakarta, dalam keadaan penuh koreksi dan sulit dibaca Dari duapuluh cerpen yang ada dalam buku ini, hanya tiga yang pernah dipublikasikan.Hampir semua tema cerita dalam buku ini adalah peristiwa peristiwa yanRumah Bambu adalah kumpulan cerpen Romo Mangun yang pertama dan terakhir kali diterbitkan Sebagian besar cerpen cerpen itu ditemukan di rumah penulis, di Kuwera, Yogyakarta, dalam keadaan penuh koreksi dan sulit dibaca Dari duapuluh cerpen yang ada dalam buku ini, hanya tiga yang pernah dipublikasikan.Hampir semua tema cerita dalam buku ini adalah peristiwa peristiwa yang kelihatan sederhana, sepele, dan mungkin remeh Memang, Romo Mangun adalah sosok yang dikenal sederhana, lembut, mudah terharu dengan penderitaan orang lain, tetapi kalau perlu, bisa juga keras Bila hari hujan, ia sering membayangkan nasib anak anak gelandangan yang tidur di emper emper toko Kalau sudah gelisah, ia lantas berjalan mengelilingi meja makan, bisa sampai lebih dari 15 kali.Buku ini menantang kita untuk merasakan kehidupan manusia yang mung kin tidak pernah kita bayangkan.

    1 thought on “Rumah Bambu: Kumpulan Cerpen Pertama dan Terakhir

    1. Kumcer pertama dan terakhir kali milik Romo Mangun yang diterbitkan. Mengangkat tema kehidupan sederhana dan dapat terbaca bahwa Romo merupakan sosok yang lembut dan mudah terenyuh dengan penderitaan orang lainDan Romo membagikan perasaannya kepada pembaca untuk merasakan dan juga mungkin berempati tentang kehidupan manusia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya

    2. kumpulan cerita dari Romo Mangun ini bagus, walaupun kata orang penuturnnya sedikit berbelit belit. but for me message delivered !.potret masyarakat desa dan problematikanya sehari hari, begitu realistis sekaligus memprihatinkan. sudut pandang dan cara berpikir Romo Mangun kok sedikit banyak sama dengan sudut pandang saya. itu yang bikin shock. sumpah !contoh di salah satu cerpen, Romo Mangun menceritakan anak kutu buku yang menggembala domba dombanya, dan kemudian ditipu orang sehingga dombanya [...]

    3. kali pertama membaca tulisan Romo * Tak Ada Jalan Lain - Biar damai, asal tidak ramai?. Tiba-toba terasa sakit hatinya ooleh kesadaran bahwa kedamaian bagi orang punya dan tak punya memang tidak sama akarnya (9) *Cat Kaleng - Jika seorang anak kecil mencuri maka alasan sederhana orang tuanya adalah "Ah, memang bibitnya sudah terlanjur buruk. Yang salah salah bibitnya". eh?

    4. Membaca buku ini seperti duduk mendengarkan penuturan begitu banyak orang tentang cerita hidupnya. Ada si sinden wedok, anak perempuan kecil yang mencuri cat, pilot pesawat tempur wanita, dan banyak lagi. Mengasyikkan!Katanya (di sampul belakang buku), "Buku ini menantang kita untuk merasakan kehidupan manusia yang mungkin tidak pernah kita bayangkan." :)

    5. Kumpulan cerpen RUMAH BAMBU merupakan buku pertama Romo Mangun yang saya baca dan tentunya membuat jatuh cinta serta menumbuhkan rasa penasaran akan sosok sang Romo yang sayangnya sudah tiada. Tidak mudah memang membaca kumpulan cerpen ini dikarenakan faktor perbedaan generasi. Untungnya, kebiasaan mendengarkan kisah keseharian orang tua sangat membantu membuat imajinasi akan cerita Romo Mangun. Terutama juga karena Romo banyak menghabiskan waktu di Jogja dan Magelang yang merupakan daerah asal [...]

    6. KASIRINROMO Mangun pernah menulis cerita sederhana tentang colt tua dan seorang penggembala.Penggembala itu bernama Kasirin. Lengkapnya, seperti tulis Romo dengan sedikit humor, “raden mas bagus sinyo Hario Kasirin”. Kasirin adalah pemuda pemalas. Tapi dari empat bersaudara keluarga Pawiro, Kasirin bukan yang paling pemalas. Abangnya, Kasiman, sebenarnya sama pula. Bedanya, Kasimin jadi bandit (“semoga Allah yang Mahamurah lagi Mahapengasih mengampuninya”, tulis Romo), hidup mengembara, [...]

    7. Joko Pinurbo dan TH Kushardini, penyunting, mengantarkan buku ini dengan kisah kenyentrikan YB Mangunwijaya. The Romo Mangun, yang ketika gelisah suka mengelilingi meja 15 kali. Romo yang keras dan eksentrik--ia memesan lem kanji tapi jadinya terlalu banyak. Walhasil si pembuat lem disodori piring untuk makan kelebihan kanji tadi. Otoriter, tapi hangat, humoris, gampang trenyuh melihat bocah jalanan. Romo ini jugalah arsitek yang mengubah pemukiman miskin Kali Code. Ia pernah berang ketika dahan [...]

    8. Apa yang saya rasakan selama membaca kumpulan cerpen yang ternyata merupakan yang pertama dan yang terakhir milik Romo Mangun ini? Saya merasa sedang bersepeda di kampung-kampung, memperhatikan apa yang tengah terjadi disana. Satu kampung mempunyai kisah berbeda, kadang lucu, kadang pahit dan kadang bahagia. Tak jarang, saya menggelengkan kepala, mengagumj bagaimana Romo Mangun memotret kehidupan masyarakat kampung dengan begitu detil lagi indah. Buat saya yang hobi blusukan di kampung dengan be [...]

    9. Anda bisa bayangkan sosok pemuda ireng sonokeling (hitam banget) berbeha warna pinky (merah muda menyala) ? Lalu pemuda yang salah kodratnya itu nekat berkebaya kenes (anggun) melenggak-lenggok di jalanan demi seratus-dua ratus rupiah. Entah darimana Mangunwijaya, yang kerap disapa Rama (orang tua yang dihormati) punya imajinas liar ini. Ini menjadi titik berangkat pada buku kumpulan cerpen pertama dan terakhir dari Mangunwijaya. Dikenal sebagai rohaniwan, arsitek dan hamba kaum papa tak menjadi [...]

    10. Cerpen Mangunwijaya adalah kumpulan rasa resah dan gelisah yang ia tuangkan dalam prosa. Begitu terasa dilema yang ia pikirkan dalam beberapa cerpennya. Dalam pendahuluan, telah dituliskan bahwa Mangunwijaya sebenarnya tidak menulis hal-hal yang berat, namun sederhana saja. Hal ini saya cukup setujui setelah membaca kumpulan cerpen ini. Meski temanya sederhana, cara bertutur seorang Mangunwijaya tidak sesederhana itu. Saya merasa ia seakan menulis jalan pikirannya sendiri, bukan sebuah cerpen ya [...]

    11. Baru ingin membeli. Sempat menimang-nimang di toko buku, namun belum dibeli hingga saat ini. Aku ingin mengenal lebih dengan sosok Romo Mangun, pemikiran berikut karya-karyanya. ---Akhirnya beli juga. Beli di Togamas Bandung, malam Minggu kemarin, 1 September 2007. Baru baca satu cerpen pertama. " ternyata syukur orang kaya dan miskin itu berbeda", kurang lebih begitu kata-kata terakhir di cerpen pertama Romo Mangun ini.

    12. Menilik pada sang penulis yaitu Romo Mangun, langsung tergambar bahwa cerpen-cerpen di dalam buku ini akan banyak berhubungan dengan realita sosial dan budaya. Beberapa kisah bisa mengundang senyum sedangkan kisah lainnya bisa membuat miris para pembaca. Selalu saja ada makna dibalik setiap kisah-kisah tersebut. Dari sekian banyak cerpen yang ada dibuku ini, kisah berjudul Rheinstein sangat berkesan untuk saya. Ada keunikan tersendiri yang muncul dari alur cerita dan konflik yang ditampilkan.

    13. kumcer romo mangun yang benar-benar realistis, memotret kehidupan sehari-hari dari berbagai tokoh (dan seekor anjing kudisan) yang beda-beda zaman dan datang dari berbagai latar belakang, secara jujur dan tanpa tendensi apa-apa. yah, seperti itulah kehidupan. cerpen favoritku? sulit, hampir semua cerpen disini kusukai karena bermacam alasan. tapi puyuk gonggong kurasa unik sekali settingnya dan thithut punya tokoh utama yang sangat tidak lazim.

    14. Cerpen-cerpen dalam buku ini mengambil kisah-kisah remeh yang ada di kehidupan masyarakat kecil, mungkin bukan sesuatu yang wah tetapi sangat menggelitik nurani kita. Lihat saja kesederhanaan dalam cerpen Colt Kemarau, bagaimana seorang anak petani - yang mungkin sebagian besar dari kita akan menganggapnya- dungu dengan mudahnya diperdaya oleh orang lain, di akhir cerita, ia yang kena musibah hanya bisa memandangi asap Merapi tinggi membumbung dari kejauhan.

    15. Kumpulan cerpen Romo Mangun, yang pertama dan terakhir. Sebagai fans Pohon-pohon Sesawi saya suk sekali dengan buku ini yang berisi cerita-cerita sederhana yang menyejukkan hati. Terasa berlebihan betul kehidupan orang Jakarta sekarang ini. Memang tidak semua cerpennya bagus, ada beberapa yang sungguh sulit dicerna sehingga kulewatkan saja tapi lainnya sangat mengaduk emosi. A must read.

    16. Kumpulan cerpen yang punya sudut pandang unik dan membuat aku tersadar betapa kisah kehidupan sehari-hari dan apa yang ada di sekitar juga mampu memberi hikmah.Cerpen favoritku:-Colt Kemarau (kisah paling pahit, pahit, pahit)-Mbak Pung (aduh jodoh itu emang bukan gak kemana tapi ada dimana)-Natal 1945 (kisah pejuang muda yang naif)-Renungan Pop (ini yang paling lucu di kum cer ini)

    17. Rumah Bambu adalah salah satu cerpen dalam buku ini. Dan membacanya seperti membaca kehidupan lain yang mungkin tidak pernah kita rasakan atau bahkan kita bayangkan. Kepekaan dan kepedulian Romo Mangun terhadap penderitaan orang lain bisa kita selami satu-satu dalam kumpulan cerpen beliau ini.

    18. Y.B. Mangunwijaya atau lebih saya kenal dengan nama Romo Mangun, bercerita mengenai kehidupan. Dan lagi-lagi, romo memang seorang Realis-Kultural, menurut saya. Ceritanya sederhana namun penuh dengan nilai.

    19. klo gak suka novel romo mangun yg panjang mending baca kumpulan cerpen romo kayak yg satu ini,khas dengan gaya romo mangun, cuplikan potret 'gesang ing saben dinten' dr beberapa latar belakang dan generasi masyarakat kayak mas wagiyo, mbok benguk, mas khalid dllunan banget dech.

    20. seperti biasa Romo Mangun selalu bisa membawa pembaca seolah olah menjadi bagian dari cerita cerita yang ditulisnya. Rumah Bambu sebuah kumpulan cerita tentang realitas kehidupan manusia yang benar benar ada dan terjadi. Bijak, lucu, mengharukan sekaligus memberi pembelajaran idup

    21. tema-tema yang diangkat sungguh menarik, ringsn dan sangat sederhana namun mampu menghadirkan sebuah hikmah dan kesadaran tersembunyi

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *